Langsung ke konten utama

MENGABDIKAH ATAU IBADAH


Sebuah kritikan pedas dari seorang temanku akan adanya perbedaan antara menabdi dengan beribadah. tatkala muncul penerjemahan إلا ليعبدون. ada yang menerjemahkan "mengabdi" dan "Beribadah". manakah yang tepat. Menurut persi saya, kedua bentuk “mengabdi” dan “Beibadah” dapat dianalisis dengan kajian morfologi. Bagaimana kedudukan makna keduanya. Mungkin para ahli bahasa atau linguistik bahasa gaulnya maklum dengan istilah morfem, sebuah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna. Beragam para pakar linguistik mengklasifikasikan bentuk morfem. Tapi yang jelas mereka sepakat bahwa ada yang disebut morfem bebas dan morfem terikat. Bebas dalam arti tanpa kehadiran morfem laen ia dapat muncul dalam penuturan dengan memikul sebuah makna. Saya coba ambil contoh dengan kata: makan, bebas, benar. Ketiga bentuk tersebut merupakan mofem bebas yang dapat digunakan morfem-morfem terseubt tanpa terlebih dahulu menggabungkan dengan morfem lain. Berbeda dengan morfem terikat yang tanpa digabung dahulu dengan morfem laen tidak dapat muncul dalam penuturan sebab tidak memiliki makkna. Seperti bentuk-bentuk afiks me-, ber-, ter-, dan lain-lain. -, dan lain-lain. berpijak dari pnjelasan diatas, kedua bentuk "beribadah" dan “ mengabdi “ dapat dianalisis dengan teori linguistik morfologis diatas melalui beberapa pertanyaan. Terbentuk atas berapa mofem kedua kata itu?, bentuk morfem apa saja yang ada dalam keduanya? (cukup dua pertanyaan saja UAS linguistik kali ini yaa...hehehe)
Untuk bentuk pertama “Beribadah” saya akan coba bandingkan dengan kata lain:
Beribadah
Berlari
Beraturan
Ketiganya diawali dengan awalan ber-. Itu menunjukan bahwa ber merupakan bentuk lain yang dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri yang memiliki makna. Maka “beribadah” terbentuk dari ber- dan Ibadah. Disini ber- merupakan morfem terikat yang dapat muncul jika telah digabungkan dengan morfem lain. Sedang ibadah merupakan morefem bebas yang dapat muncul kapan saja dalam penuturan tanpa menunggu adanya penggabungan morfem lain. Simple saya katakan bahwa “beribadah” memiliki kata dasar ibadah.
Kedua “mengabdi”, analisis bentuk “mengabdi” secara morfolgis ia hanya merupakan satu morfem terikat. Ia tidak dapat dipecah lagi seperti halnya “beribadah”. Sebab, ketika dicoba dipkasakan untuk dipecah menjadi me-+ abdi, maka kata abdi tidak memilki makna kecuali bergabung dengan me-. Gampangnya mengabdi adalah satu bentuk morfem terikat.
Jika shabat saya mengatakan bahwa mengabdi berakar dari kata Abd yang artinya seorang budak belian, hamba sahaya, .........dan seterusnya. Itu tidak relevan. Sebab, bentuk “mengabdi” tidak memilki kata dasar yang bermakna, akan tetapi muncul makna tatkala telah bergabung dengan me-.
“mengabdi” merupakan bentuk bahasa Indonesia yang mutaridf / bersinonim dengan kata Ibadah.
Naahhhh, jika demikian saya ikut trayek M. Qurays Shihab saja. Bahwa Ibadah dalam arti mengabdi. Beliau berkata “pengertian ibadah bukan hanya terbatas pada pelaksanaan ritual, karena jin dan manusia tidak menghabiskan waktu mereka dalam pelaksanaan ibadah ritual. Allah Swt. tidak mewajibkan mereka melakukan ibadah ritual itu sepanjang saat-saat hidup mereka. Dia mewajibkan juga kepada mereka aneka bkegiatan lain yang menyita sebagian besar hidup merka. Memang kita tidak mengetahui persis apa batas-batas dari aktivitas yang dibebankan kepada jin, tetapi kita dapat mengetahui batas-batas yang diwajibkabn kepada manusia, yaitu yang dijelaskan dalam al-Qur’an tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Ini menuntut aneka ragam aktivitas penting guna memakmurkan bumi; mengenal potensinya, perbendaharaan yang terpendam di dalamnya, sambil mewujudkan apa yang dikehendaki Allah dalam penggunaan, pengembangan dan peningkatannya.(fi Zhilal al-Qur’an).
Dengan kata lain beribadah adalah nama lain dari mengabdi. jadi, sah-sah saja menerjemahkan ليعبدون dengan keduanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FENOMENA LINGUISTIK (ilmu Lughoh) DI BULAN RAMADHAN

Ada Apa Dengan Ramadhan;  Tak terasa ternyata kita sudah di sepuluh hari pertengahan bulan suci romadhon. Hmmmm,,, ingat ungkapan para ulama, “Sepuluh hari pertama bertabur rahmat , sepuluh hari pertengahan tempatnya maghfiroh (ampunan) Allah, sepuluh hari terakhir ‘itqun minannar (pembebasan dari murka Allah). Mumpung masih dalam wilayah ampunan, enaknya kita cari solusi mendapat ampunan yuukk! He..geje nya? STAR … Bukan hal yang asing kiranya di kalangan orang muslim atau bahkan non muslim, mengenal ibadah puasa Romadhon. Yah,,, sebuah kisah kecil mengenai fenomena romadhon yang sedang marak beredar. Mau tau! Ada syartnya lah, harus TAK TA LI (pake Otak, Mata, dan Celi)…hehe Episode satu : “Ahmad tak keliatan ikut teraweh Ron, kemana?”, “Oh iya kang, katanya Ahmad malam ini ikut pa Haji TARLING (Taraweh Keliling). Nah, sekarang teraweh nya giliran di Mesjid kampung sebelah”. “Pantesan atuh, tadi di mesjid tak ada yang jadi bilal”, ucap kang Galih sambil b

LINGKAR INTELEKTUAL MAQASHID SYARI’AH

Part 2 Menarik ternyata jika menelisik lebih jauh kajian tentang maqashid syari’ah. Kemarin saya mencoba menaruhkan perhatian ke-eksistenian maqashid syari’ah vis to vis fitrahmanusia dengan judul “Antara Fitrah dan maqashid syari’ah”. Kali ini sayahendak menelusuri sisi maqashid syari’ah dalam sebuah konsep keilmuan. Untuk dewasa ini, maqashid Syari’ah menjadi isu hangat dalam dunia akademik hukum islam, pasalnyatema ini telah banyak diusung oleh para ulama hukum – khususnya di dunia Timur-sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri sekaligus metodologi berpikir dalamistinbath hukum. Namun, tidak bisa dilepaskan begitu saja bahwa Maqashid Syari’ah sungguh pun telah menempuh masa yang cukup lama untuk diakuisecara ilmiah- logis, sistematis, dan dapat dipertanggung jawabkan- sebagaisebuah disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita cobamenengok sebentar kebelakang, sebanarnya dalam lingkup aliran-aliran madzhab fiqh telah banyak yang menyentuh nilai-nilai maqashid syari’

Kelahiran Nabi dan Solawat Abdul Muthalib

  Abdul Muthalib merupakan tokoh terhormat dan terkemuka di kalangan Suku Quraisyi juga sebagai khadimul ka’bah , pelayan ka’bah. Darinya terlahir sepuluh orang anak laki-laki; (1) Harits (2) Zubair (3) Hajl (4) Dliror (5) Muqawwam (6) Abu Lahab (7) Abbas (8) Hamzah (9) Abu Thalib dan (10) Abdullah. Abdullah seorang anak pilihan dan penyelamat umat atas nazar ayahnya menjadi lelaki primadona dambaan setiap wanita. Abdullah dinikahkan kepada seorang wanita paling menawan, bunga desa dari keturunan mulia, yakni Siti Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr. Aminah Binti Wahb bersanding dengan Abdullah melalui proses pernikahan yang sah dan beradab. Di Bulan Dzulhijah, tepat saat para jama’ah haji melaksanakan lempar batu wushtha ( jumrah ) ia terlihat lemas berada di kemah Abu Thalib. Di hari tanggal 11-12-13 itulah   ( ayyam tasyriq ) Aminah mengidam bayi muda Mulia nan suci, titipan ilahi Rabbi, yang kelak menjadi pa