Kamis, 18 April 2013

FENOMENA LINGUISTIK (ilmu Lughoh) DI BULAN RAMADHAN


Ada Apa Dengan Ramadhan; 
Tak terasa ternyata kita sudah di sepuluh hari pertengahan bulan suci romadhon. Hmmmm,,, ingat ungkapan para ulama, “Sepuluh hari pertama bertabur rahmat, sepuluh hari pertengahan tempatnya maghfiroh (ampunan) Allah, sepuluh hari terakhir ‘itqun minannar (pembebasan dari murka Allah). Mumpung masih dalam wilayah ampunan, enaknya kita cari solusi mendapat ampunan yuukk! He..geje nya?

STAR
Bukan hal yang asing kiranya di kalangan orang muslim atau bahkan non muslim, mengenal ibadah puasa Romadhon. Yah,,, sebuah kisah kecil mengenai fenomena romadhon yang sedang marak beredar. Mau tau! Ada syartnya lah, harus TAK TA LI (pake Otak, Mata, dan Celi)…hehe

Episode satu:
“Ahmad tak keliatan ikut teraweh Ron, kemana?”,
“Oh iya kang, katanya Ahmad malam ini ikut pa Haji TARLING (Taraweh Keliling). Nah, sekarang teraweh nya giliran di Mesjid kampung sebelah”.
“Pantesan atuh, tadi di mesjid tak ada yang jadi bilal”, ucap kang Galih sambil bergegas pulang. Langkah demi langkah kang Galih ayunkan kakinya menuju rumah. Baru sepuluh atau mungkin hanya lima ayunan kaki melangkah, Ahmad muncul dengan nafas ngos-ngosan dan berteriak: “Kang, kang, tunggu!”
“Ada apa Maad?, kaya habis di kejar-kejar Satpol PP saja”, jawab kang Galih langkah pun terhenti dan sedikit menolehkan wajahnya.
“..pengen tanya kang, boleh?”, terlontar nada Ahmad yang agak terputus-putus.
“boleh saja, asal jangan yang aneh-aneh kamu !”
“Iya atuh kang, he… begini kang, saya barusan ikut terawehan di mesjid kampung sebelah. Setelah salat teraweh lengkap sama witirnya, Imam berdiri dan berkata pada jama’ahnya:
“Silahkan berniaat !”..
Hening sejenak
“Terus.. apa yang mau kamu tanyakan Maad !”, ungkap kang Galih dengan raut muka penuh kebingungan.
Ahmad pun tersenyum dan berkata: “Belum atuh kang,,” He.e..
“Terus jama’ah pun menundukan kepala dan berniat dalam hatinya masing-masing. Kejadian ini membuat saya heran dan bertanya-tanya dalam hati: “Kenapa Bapak yang jadi Imam itu tidak memimpin untuk berniat bersama?, seperti halnya pa Kiyai di Mesjid kita. Pertanyaan dan Rasa heran pun tak ku biarkan berlarut-larut sampe saya pulang ke rumah. Kemudian, Saat para jama’ah bubar meninggalkan mesjid, salah seorang sesepuh di sana saya introgasi dulu. Saya pun utarakan kepada beliau pertanyaan yang mengganjal dalam hati: “maaf Pak, Kenapa niatnya tidak dipimpin langsung sama Imam? ”, tanya Ahmad.
“Hmmm..khawatir de”, jawaban tanpa dosa bapak sesepuh itu mengucilkan pertanyaan Ahmad.
“Khawatir apa Pak?..”, kembali tanya Ahmad
Melihat Ahmad yang bertanya kepadanya, dengan memasang walpaper wajah penuh kepenasaranan dan kebimbangan, Bapak Sesepuh itu pun merasa perlu untuk menjelaskan latar belakang tradisi berniat di kampungnya.
“Di sini itu de sudah banyak para ustadz. Mereka lulusan beberapa pesantren yang beraneka ragam. Keberaaneka ragaman background tempat menimba ilmu mereka ternyata membawa dampak keberagaman pula dalam ilmu yang dikuasai, dan bahkan masalah berniat dalam puasa romadhon pun ikut-ikutan beragam. Begitu de..”
“Terus, maksudnya apa itu teh Pak,,? ”, dengan alis matanya yang sedikit terangkat dan muka tegang penuh penasaran, Ahmad menyimak pembicaran itu dengan hidmat. Lalu bapak tua itu pun melanjutkan penjelasannya:
“Dalam masyarakat kami disini, pembacaan niat puasa ada dua persi.
Pertama, نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمْضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Kedua, نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Fenomena ini membuat masyarakat kami menjadi kebingungan, lapad mana yang meski mereka gunakan, bolehkah keduanya digunakan, atau salah satu lapad tersebut ada yang benar, sedang yang satunya lagi salah?. Bahkan dampak terbesar yang diduga akan muncul akibat kejadian ini ialah dikhawatirkan tumbuhnya perpecahan di tengah masyarakat kami. Maka, kami sebagai Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) mengambil inisiatip praktek niat harus seperti yang anda liat barusan di mesjid, yakni dengan tidak menentukan salah satu dari kedua persi niat itu”.
Kang Galih tersenyum lebar mendengar paparan Ahmad, “Ada-ada saja kamu ini Maad..?, ha,aha
“hmmm Kang, ko malah ketawa ketiwi gitu?”, kesal Ahmad, respon kang Galih hanya berujung tertawa tak jelas kaya gini.
“eeeh, kang kenapa ketawa sih :-( ?”..
“Yaa, lucu wae atuh maad, kamu katanya tadi teh mau tanya pada akang. Terus mana yang harus kang Galih jawab kalo seperti itu pertanyaannya?,,hahaha”. Kang Galih meneruskan tawanya tanpa pikir panjang bahwa syaitan sedang menghampirinya. Saking enaknya ketawa, mulutnya pun melebar seukuran kepalan tangan Ahmad.
“Sudah kang diam dulu, saya sedang berpikir dulu pertanyaan apa kiranya yang pantas bagi anda..hmmmmm”
Sejenak Ahmad merenung sambil menyusun kata yang pantas untuk diungkapkan kepada kang Galih sebagai pertanyaan dari deretan cerita nyata yang ia alami malam itu.
“Naah, ini pertanyaannya kang, :
“Bagaimana pendapat kang Galih mengenai fenomena dua persi niat tersebut?..”, hayoh, hayoh jawab!”, gertak Ahmad dengan sedikit tawa canda terlempar kepada kang Galih.
Mendengar pertanyaan yang muncul dari mulut Ahmad, kang Galih pun mulai sediki-sedikit mengurangi volume nada tawanya, dan berakhir dengan senyum manis,
“he.e.he, Nah ini baru pertanyaan. Tapi Maad, jawaban dari pertanyaanmu ini membutuhkan waktu dan energi cukup memeras jiwa dan raga. Alangkah bahagianya andai kamu berangkat dulu gih ke belakang. Sobek amplop yang baru saja kamu terima dari pak Haji, dan ambil gelas ini. Yaaaa..”
“Ah,,si akang mah. Angger da hayang (B.sunda, a/ Ingin) ngudud jeng ngopi ieu mah. Ya sudah, akang tunggu di mesjid. Saya pergi ke warung dulu”.
Ahmad pun bergegas pergi ke warung dengan berusaha secepat kilat, ia lari. Tak sabar menanti jawaban yang akan keluar dari mulut berasap kang Galih. Ahmad pun tiba di mesjid menemui kang Galih yang sudah siap sedia menyambutnya.
“beuh…ini baru energi roso maaad”, kang Galih teriak ria melihat ahmad membawa segelas kopi hitam dengan bersanding sebungkus rokok “99 Tahun Cita Rasa Legendaaris”.
”Ini kang, hayu atuh lah kita mulai pembahasan yang tadi!”, ajak ahmad dengan belagak kaya seorang gadis manja meminta di suapin sama pacarnya.
“Ok, simak baik-baik ya! ,
Saya coba ulang kembali dua bacaan niat yang kamu maksud ya Maad..
  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمْضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
  2. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Dari kedua bacaan tersebut, titik perbedaannya hanya dari segi pembacaan lapad رمضان. Untuk niat yang pertama dengan dibaca رَمْضَانِ   (dibaca kasroh hurup akhir nun dan disukunkan hurup mim). Sedangkan yang kedua dibaca رَمَضَانَ (dibaca fathah hurup akhir nun dan difathahkan hurup mim). Berarti lapad ini akan akang kaji dengan dua wilayah kajian disiplin ilmu linguistik.; pertama, ilmu sintaksis (nahwu), kedua, ilmu morfologi (shorof).
Untuk yang pertama, Dalam kajian sintaksis atau ilmu nahwu. Lapad رمضان merupakan salah satu bentuk isim ghoir munsharif. Aturan baku dalam isim ghoir munsharif, baris/harokat hurup akhirnya tidak boleh pake tanwin. Berkaitan dengan baris akhir/I’rob, acuan isim ghoir munsharif diberi harokat domah pada akhir hurupnya ketika rofa’ (رمضانُ), diberi harokat fathah akhir hurupnya ketika nashab dan jar(رمضانَ).
Namun, aturan isim ghair munsharif diatas akan batal jika isim tersebut di-idhofat-kan atau disertai alif lam. Jika isim ghair munsharif di-idhofat-kan atau disertai alif lam maka saat kedudukannya sedang nashab akan diberi harokat fathah dan ketika jar akan diberi harokat kasroh, sebagaimana aturan isim munshorif (bertanwin).
Dalam hal ini, lapad رمضان yang terdapat dalam niat puasa tadi kedudukannya sedang dalam keadaan jar. Sekali lagi, kedudukannya dalam keadaan jar. Sebab, lapad رمضان posisinya menjadi mudhof ilaih, yang mudhofnya adalah شهر. Seperti yang saya katakan tadi, isim ghoir munsharif ketika jar akan diberi harokat fathah, jika tidak di idhifatkan lagi pada kalimah berikutnya; dalam arti tidak menjadi mudhof. Sedangkan apabila ia menjadi mudhof/ di idhofatkan lagi pada kalimah berikutnya maka ia meski diberi harokat akhir kasroh.
Lalu bagaimana analisis dalam ucapan niat tersebut. Saya bisa gambarkan seperti ini:

         Mudhof ilaih  Mdf 4  Mdf 3  Mdf 2   Mdf 1
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ    عَنْ        أَدَاءِ      فَرْضِ     شَهْرِ رَمْضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى 
                          majrur (idhofat)                        + jar

Dalam catatan di atas perlu diperhatikan yang dimaksud mdf adalah Mudhof. Sekumpulan lapad أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمْضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ merupakan bentuk idhofat beruntun. Kita tahu Bentuk idhofat terdiri dari dua buah kalimah isim, yakni mudhof (Mdf) dan mudhof ilaih. Ladap idhofat di atas Memiliki beberapa mudhof dan mudhof ilaih. Aturannya, kedudukan mdf 1 (أَدَاءِ) memiliki mudhof ilaih lapad فرض, yang menjadi mdf 2. mdf 2 memiliki mudhof ilaih lapd شهر, yang menjadi mdf 3. mdf 3 memiliki mudhof illaih lapad رمضان, yang menjadi mdf 4, sekali lagi, yang menjadi mdf 4. Dan mdf 4 yakni kata رمضان memilki mudhof ilaih terakhir yakni هذه السنة.
Jadi, lapad رمضان kedudukannya menjadi mudhof ilaih dari mdf 3 dan I’robnya harus jar. I’rob jar-nya ditandai dengan harkat kasroh, bukan oleh fathah. Tegas sekali lagi, I’rob jar-nya ditandai dengan harkat kasroh, bukan oleh fathah. Alasannya, رمضان diidhofatkan lagi (menjadi mdf 4) pada lapad berikutnya هذه السنة. Hasilnya, dibaca رَمضانِ هذه السنة”.
Detail kang Galih memaparkan pembacaan niat yang persi pertama. Ahmad pun tak lengah memperhatikan serius kata-demi kata yang terlontar dari mulutnya. Dengan kepala termangut-mangut ia berusaha paham penjelasan itu.
“Terus Kang niat persi kedua bagaimana?”, dengan nada tinggi Ahmad potong pembicaraan kang Galih.
“Nah…ini menarik Maad”, sambut baik kang galih dengan senyum simpuh, seraya keluarkan hisapan asap rokonya.
“Pembacaan niat رَمضانَ هَذِهِ السَـنَةِ agak riskan untuk diucapkan menurut saya. Sebab, pembacaan akhir fathah pada kata رَمضانَ dapat diperbolehkan apabila lapad ini tidak di-idhofatkan pada kalimat berikutnya, dalam arti tidak menjadi mudhof (Mdf 4). Sedang kita dapat lihat sendiri bahwa kalimat berikutnya هَذِهِ السَـنَةِ dibaca jar kasroh yang berarti lapad tersebut menjadi mudhof ilaih. Waah, ini berarti ada hal yang mengganjal”.
Ungkap kang Galih dengan suara agak sedikit membuat Ahmad merinding. Namun, perkataannya menjadikan Ahmad mengangkat pertanyaan:
“Berarti tidak boleh atuh kang membaca رمضَانَ هَذِهِ السَـنَةِ ?”
“yaah, boleh saja pembacaan رمضَانَ. Tapi, itu berarti lapad ini tidak menjadi mdf 4. Akan tetapi, hanya menjadi mudhof ilaih terakhir pada runtutan lapad niat itu. Setatusnya menjadi isim ghair munsarif yang belum batal ke-munsharifan-nya. Dan awaas Ahmaad!!!, kalimat berikutnya gak boleh di jar kan dengan dibaca هَذِهِ السَـنَةِ. Sebab kalimat ini bukan jadi mudhof ilaih lagi, akan tetapi hanya menjadi dhorof zaman. Jadi, dibaca هَذِهِ السَنَةَ dengan harokat fathah. Prosesnya kamu pasti sudah tau kan dalam pembuat dhorof dengan disertai isim isaroh. Kalau tidak salah Ini bait alfiyahnya:
وقد ينوب عن مكان مصدر * وذاك في ظرف الزمان يكثر
“oooooooh gitu ya Kang,,,
Berarti yang boleh itu begini kang:
  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمْضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
  2. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى ؟؟؟
Dengan sedikit keberanian Ahmad menyimpulkan perkataan kang Galih yang begitu berbelit-belit.
“tidak begitu juga atuh mad,,”, jawab kang Galih sambil mengambil sebatang rokok, kemudian membakar sesajen mulutnya.
“lalu,,gimana atuh?”, heran pun kembali merenggut ke PD an Ahmad.
“Memangnya kamu dapat memilih dua orang perempuan tua yang mengaku Ibu kamu. Tentunya tidak kan?. “ senyum kang Galih mulai terlihat mengesalkan Ahmad.
“ya tentu tidak lah Kang, dimana-mana seorang Ibu itu hanya satu. Selain itu mungkin hanya Ibu Jari”,
Ahmad Cairkan suasana hatinya dengan canda kecil yang membuat kang Galih tertawa terbahak-bahak.
“jadi Kumaha atuh kang kesimpulannya?”, ,
“yaah,,saya simpulkan maad, masalah ini sudah ada beratus tahun silam. Dan para ulama pun sudah menyimpulkan bahwa berniat puasa dengan lapad niat tersebut lebih baik dengan persi pertama, yaitu:
  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمْضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Mungkin kamu dapat melihat rujukan dalam kitab I’anatu Tholibin juz II, atau Syarah Bajuri Juz I.

Untuk persi kedua, sebenarnya secara ilmiah sintaksis atau nahwu boleh-boleh saja. Tapi, makna yang muncul akan menjadi kacau. Sekali lagi mad, maknanya akan menjadi kacau. Sebab, ketika هذه السنة menjadi dhorof zaman (ket.Waktu) bagi niat, maka tidak sesuai. Karena niat tidak memiliki waktu yang panjang. Niat hanya memiliki waktu saat hati kita mengucapkannya. Jadi, Hemat saya kita ikuti saja pendapat para ulama tersebut”.

“yaa.ya.ya..sekarang saya mulai paham. Alhamdullihah, tak terasa kang sudah jam satu. Hee.. saya sudah mendapat pencerahan kang. Terimakasih banyak sudah memberi saya bekal ilmu. Semoga ini menjadi manfaat bagi saya dan bagi mereka yang nanti akan mendengar penjelasan saya mengenai hal ini”.

“ya mad, itu hanya perspektif saya saja tentang kejadian tersebut. mungkin kamu dapat menanyakan kepada para ulama yang lebih menguasai tentang ajaran agama dan kaidah-kaidah tentang pelafalan niat tersebut”, sebuah ungkapan ke tawadhuan kang Galih pun muncul.

“…ya kang, tapi ada beberapa problem lagi kang yang belum terpecahkan. Tapi sayang waktunya sudah mepet ke saur ya kang”.
“entar aja di lanjut lagi besok malam”..

“OK lah..”

Ahmad pun pamit kepada kang Galih, dan bergegas pulang ke rumahnya. Begitu pun kang Galih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar